Pohon yang satu ini memang pohon yang tergolong langka di Indonesia yaitu pohon sukarno namanya, kalau begitu pasti ada kaitannya dengan Presiden RI Pertama Indonesia ini. Terbukti dalam sejarah bahwasanya Bung Karno pernah memberikan hadiah kepada Raja Saudi pohon ini agar ditanam disana, Kita lihat saja kutipan dari Harian Republika.

Sejak beberapa tahun terakhir, paling tidak
sampai dengan 2009 lalu saat saya (konsultan
agronomi) berhaji, Padang Arafah sudah begitu
rindang dengan pepohonan yang tumbuh subur.
Bahkan, hijaunya hampir merata di seluruh
hamparannya. Orang Arab Saudi sering menyebut pohon-pohon itu
dengan nama “Pohon Soekarno”.

Di Indonesia, pohon
Soekarno itu dikenal dengan nama Mimba, Pohon
Imbo, atau Pohon Imba. Pohon ini memiliki famili
dekat di antaranya adalah pohon Mindi. Kedua
tanaman itu memang memiliki kemampuan untuk hidup dan berkembang di tanah tandus yang kering. Berkembangnya tanaman Mimbo di tanah suci
Makkah memang dipelopori oleh Presiden Soekarno
saat mengunjungi Arab Saudi di zaman Raja Fahd.
Sekarang, pohon Soekarno itu berkembang luas,
bukan hanya di Kota Makkah tetapi juga sampai di
Madinah, Jeddah, dan kota lain di Arab Saudi.

Bentuk pohonnya pun dibuat beraneka. Di Hudaibiyah,
tempat bersejarah saat dulu Nabi Muhammad SAW
membuat perjanjian dengan orang-orang Quraish,
pohon Soekarno dibiarkan tumbuh bercabang-
cabang sehingga lingkungannya menjadi rindang.
Hudaibiyah sekarang ditetapkan sebagai salah satu tempat miqat untuk ibadah umrah.

Di halaman Museum Ka’bah, atau disekitar Masjid Aisyiah,
Tan’im, dan di sepanjang jalan Kota Makkah, pohon
Soekarno dipangkas berbentuk bulat, meruncing,
atau lainnya sesuai selera. Yang jelas, jamaah Indonesia bisa berbangga diri
dengan adanya pohon Soekarno yang banyak
dikenal oleh penduduk Arab Saudi itu. Di Indonesia
sendiri kedua tanaman itu memiliki beberapa fungsi.
Tanaman yang digunakan untuk penghijauan lahan
kritis itu juga dimanfaatkan kayunya sebagai bahan bangunan dan kayu bakar. Daunnya bermanfaat
untuk bahan baku pestisida organik dan sebagai obat
bagi kesehatan. Fermentasi dari daun Mimba dan urin
kambing/kelinci yang dipercepat dengan
dekomposer-bio efektif dapat digunakan untuk
pengendalian hama kutu daun pada cabe, tomat, kacang panjang, dan lainnya. Padang Arafah sendiri luasnya sekitar 5,5 x 3,5 km,
yang disekitarnya dikelilingi bukit-bukit. Salah
satunya adalah Jabal Rahmah, yaitu bukit yang
diyakini sebagai tempat bertemunya Nabi Adam dan
Siti Hawa setelah turun ke bumi dan dipisahkan
kembali selama 300 tahun.

Kabarnya, ada dua gagasan besar Presiden Soekarno
di Arab Saudi waktu itu, yaitu penanaman pohon di
Arafah dan pembuatan tiga jalur tempat sa’i.
Agaknya, gagasan itu direspons oleh Pemerintah
Kerajaan Arab Saudi. Karenanya, kini tempat sa’i
antara Bukit Safa dan Marwa terbagi menjadi tiga jalur. Jalur pertama adalah dari Bukit Safa ke Bukit
Marwa. Jalur kedua adalah dari Bukit Marwa ke bukit
Safa. Jalur ketiga berada ditengah-tengah antara jalur
pertama dan kedua yang diperuntukkan bagi orang-
orang yang sudah uzur atau cacat fisik dengan
menggunakan kursi roda. Pada musim haji, di bawah pohon-pohon Soekarno itu
dipasang tenda-tenda untuk penginapan sementara
para jamaah. Tenda-tenda itu dipersiapkan
menjelang acara wukuf yang dimulai pada 9
Dzulhijjah setelah shalat Zuhur. Puncak acara wukuf
dipusatkan di Masjid Namirah yang terletak tepat di tengah-tengah Padang Arafah.

Sekarang, suasana di
sana pun tak begitu gersang dan terasa
kesejukannya di bawah pohon rindang. Malahan, pada saat 9 Dzulhijjah 1430 Hijriah, yang
bertepatan dengan 25 November 2009, terjadi hujan
lebat disertai guntur yang hebat di Arafah. Hujan
lebat itu membasahi semua tenda dan karpet yang
ada dibawah tenda sehingga para jamaah harus
sabar berada dalam keadaan basah semalaman. Namun, hujan yang juga membasahi seluruh
pepohonan di Padang Arafah itu menjadikan
tanaman semakin subur dan Arafah makin sejuk.

Dikutip dari Republika

About these ads